Anak Cerdas seperti Einstein; Penerapan dalam psikologi anak
Hingga saat ini, sulit untuk
menguraikan apa yang dimaksud dengan kecerdasan karena termnya begitu kompleks.
Kecerdasan tak sebatas hanya kecerdasan di sekolah yang terukur dari
kemampuan anak dalam belajar membaca, berhitung, atau menggambar. Lebih dari
itu. Kecerdasan adalah kemampuan berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi,
yang mencakup; pembentukan konsep, pemecahan masalah, kreativitas, memori,
persepsi, dan masih banyak lagi.
Ada sejumlah kemampuan kognitif atau
kemampuan berpikir yang menggambarkan kecerdasan psikologi anak, antara
lain: kemampuan untuk mengelompokkan pola, kemampuan memodifikasi perilaku agar
lebih adaptif, kemampuan melakukan penalaran deduktif, kemampuan melakukan
penalaran induktif, kemampuan mengembangkan konsep, dan kemampuan untuk
memahami atau melihat keterkaitan pada sejumlah informasi. Semuanya ini sangat
berguna untuk membangun psikologi anak yang semakin
baik sesuai tumbuh kembangnya.
Dalam perkembangan psikologi anak,
salah satu kemampuan yang sangat dikenal luas oleh orangtua adalah kemampuan
melakukan penalaran berpikir secara matematis, seperti yang dimiliki oleh
Albert Einstein. Kecerdasan psikologi anak pada area ini dipercaya
dapat mewakili kecerdasan psikologi anak pada area yang lain. Mengembangkan
kecerdasan psikologi anak dalam melakukan
kemampuan berpkir logis akan meningkatkan kecerdasan psikologi
anak secara umum, meski sesungguhnya orangtua dapat mengembangkan
berbagai kemampuan logika berpikir lain yang ada anak, seperti logika berpikir
dalam menganalisis masalah dalam sebuah cerita, dalam sebuah gambar atau balok,
dalam sebuah gerakan tari atau senam, dalam sebuah irama lagu, dan masih banyak
lagi.
Kecerdasan psikologi
anak merupakan kemampuan berpikir yang lebih advance. Untuk dapat
meningkatkan kecerdasan psikologi anak, Ayah pun perlu turut belajar
memahami tahap perkembangan psikologi anak dan kemampuan
berpikir pada setiap tahap usia anak.
Status Perkembangan Kognitif Anak, Peran
Ayah dalam Pengembangannya, dan pengaruhnya pada psikologi anak.
Jean Piaget merumuskan tentang tahap
perkembangan kemampuan kognitif pada anak. Menurutnya, kemampuan berpikir pada
anak berubah untuk setiap tahap tumbuh kembang dan memiliki penekanan pada
kemampuan tertentu.
Usia
|
Perilaku
|
|
Sensori Motor
|
0-2 tahun
|
Anak memersepsi dan bertindak
|
Tahap berefleks
|
0-1 bulan
|
Melatih refleks yang sudah ada,
misalnya: menghisap
Mengulang tindakan.
Misalnya:membuka dan menutup tangan
|
Tahap reaksi primer
|
1-4 bulan
|
Menggunakan dua penginderaan
sekaligus. Misalnya:lihat dan dengar
|
Tahap reaksi Sekunder
|
4-8 bulan
|
Mengulang tindakan untuk melihat
perubahan lingkungan. Misalnya: menendang mainan gantung untuk melihatnya
bergerak menjauh
|
Tahap koordinasi
|
8-12 bulan
|
Memberikan respon untuk
menyelesaikan masalah. Misalnya: memindahkan penutup untuk mengambil mainan
|
Tahap reaksi tertier
|
12-18 bulan
|
Tertarik pada karakter sebuah
mainan untuk melihat bagimana mainan bisa berfungsi. Bayi sudah bisa meniru
lebih akurat.
|
Awal berpikir
|
18-24 bulan
|
Anak mulai mengunakan bahasa dan
simbol
|
Periode
Pre-opreational |
2-7 tahun
|
Anak mulai menghadirkan obyek atau
orang dengan menggunakan simbol (misalnya: bahasa)
|
Tahap pre-konseptual
|
2-4 tahun
|
Menghadirkan setiap pengalamannya
secara mental dengan menggunakan bahasa, lebih imajinatif dalam bermain.
|
Tahap intuitif
|
4-7 tahun
|
Mulai merespon secara intuitif
namun lebih menaruh perhatian pada tampilan sebuah obyek, seperti gelas yang
lebih tinggi akan menyimpan air lebih banyak daripada gelas yang pendek
|
Berdasarkan status perkembangan
kognitif anak seperti yang diuraikan di atas, Ayah dapat menyelami kemampuan
seperti apa yang sedang berkembang pada anaknya di usia tertentu. Sehingga Ayah
dapat menentukan permainan dan kegiatan seperti apa yang dapat merangsang
perkembangan kemampuan berpikir anak agar kecerdasannya optimal.
Berdasarkan status perkembangan
kognitif anak seperti yang diuraikan di atas, Ayah dapat menyelami
kemampuan psikologi anakseperti apa yang sedang berkembang pada
anaknya di usia tertentu. Sehingga Ayah dapat menentukan permainan dan kegiatan
seperti apa yang dapat merangsang perkembangan psikologi anak dan
kemampuan berpikir anak agar kecerdasannya optimal.
Sama seperti pada kondisi fisiknya, anak down syndrome juga memiliki kondisi
psikologis yang berbeda dengan anak pada umumnya.
Namun sebelum membahasnya
lebih jauh, yang harus ayah dan bunda tahu bahwa ada satu kondisi psikologis
yang menakjubkan dan sangat menonjol pada anak down syndrome. Hampir semua anak
down syndrome mempunyai hati yang penyayang, lembut hati dan selalu ingin
membuat senang orang lain di sekitarnya. Mereka juga cenderung untuk ingin
berteman dengan siapa saja, ramah dan ingin menyapa bahkan memberi pelukan.
Akan
tetapi, ada beberapa hal yang juga harus ayah bunda perhatikan. Anak down
syndrome juga mempunyai kondisi psikologis tertentu yang membutuhkan perhatian
dan pengertian dari orang tua dan orang-orang yang ada disekitarnya.
Pertama, hampir semua anak down syndrome mengalami gangguan belajar (learning disability)
yang disebabkan kurang berkembangnya kemampuan berpikir. Butuh waktu yang
lama bagi anak down syndrome untuk mempelajari hal baru seperti ketrampilan
tertentu atau mengerti hal dan pengetahuan baru. Seperti ketika kita
mengajarkan mengganti baju, membutuhkan proses yang cukup lama untuk
mengajarkan hal tersebut dan dilakukan setahap demi setahap.
Kedua, anak down syndrome cenderung memiliki suasana hati yang
tidak stabil bahkan rentan mengalami depresi. Hal tersebut seringkali
mengubahnya menjadi menarik diri dari lingkungan, mengalami penurunan minat
pada lingkungan sekitarnya bahkan menjadikannya tidak mau bergaul dengan orang
lain.
Ketiga, anak down syndrome cenderung memiliki perilaku yang impulsive
untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya tanpa memiliki kemampuan
untuk memahami dan mempertimbangkan konsekwensi dari tindakan tersebut.
Keempat, pada umumnya anak down syndrome mengalami gangguan tidur
sehingga anak cenderung untuk mengantuk di siang hari dan kurang memperhatikan
dalam interaksi.
Demikian
ayah dan bunda, sekali lagi mengenali dan mengerti kondisi psikologis anak down
syndrome juga merupakan hal yang tidak kalah penting selain memperhatikan
kondisi dan kesehatan fisiknya. Semoga artikel ini bermanfaat dan membantu
dalam mengasuh putra putrid ayah dan bunda.
Sumbe:bisa
mandiri
psikologo anak.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar